Cinta Sejati
Kehidupan ini adalah misteri yang dipenuhi dengan ketidakpastian.
Semua itu sudah dipercayai sejak dulu oleh Bima. Bima adalah seorang lelaki
yang dikenal pendiam, tertutup, dan kurang mau bergaul dengan orang lain yang
tidak dia sukai. Di tengah – tengah keheningan malam, Bima selalu memikirkan
sosok seorang wanita yang dipuja – pujanya selama ini. “ Aku mencintainya, tapi apakah dia juga mencintaiku?” itu pertanyaan yang selalu ada dalam pikiran Bima. Rina itulah
nama yang selalu Bima pikirkan selama ini. Rina adalah seorang wanita yang aktif,
kreatif dan enerjik. Pada umumnya wanita seperti ini sangat mengagumkan bagi
para lelaki khususnya bagi Bima. Itulah yang menyebabkan Bima jatuh hati
padanya. Baginya, Rina adalah sosok wanita yang dia idam – idamkan selama ini.
Tak satupun wanita yang dia kenal selama ini bisa menandingi Rina, mulai dari
kepribadiannya, kesopanannya, keceriaannya, kelincahannya, dan masih banyak
lagi kelebihan yang dimiliki Rina yang bisa membuat Bima terkesan.”Apakah penilaianku selama ini memang benar – benar salah? Jika salah, kenapa bisa salah?” Bima berkata dalam hatinya dan
menganggap dirinya selalu tetap pada pendiriannya. Awalnya Bima tidak pernah berpikir jika
dia akan tertarik dengan wanita seperti Rina, menurutnya wanita seperti Rina
itu pastilah orangnya membosankan dan tidak mengasyikkan. Dan itu adalah
kesalahan terbesar Bima, karena dia terlalu cepat menilai orang dari penampilan
luarnya. Bima belum sadar akan kesalahannya tersebut. Setelah beberapa lama Bima
mengenal Rina, Bima mulai tahu kepribadian Rina yang sebenarnya. “ Ternyata
penilaianku selama benar – benar salah dan ternyata penampilan orang itu bisa
menipu orang yang melihatnya” akhirnya Bima bisa menjawab pertanyaannya dan
tahu akan kesalahan dari penilaiannya. Meskipun Rina tidak terlalu cantik tapi
dia bisa membuat orang di sekitarnya terkesan kepadanya. Dari sinilah mulai
tumbuh benih – benih cinta di hati Bima.” Inikah yang dinamakan dengan cinta?” Bima
menjadi penasaran dengan perasaan hatinya itu. Tanpa sepengetahuan Bima, ternyata Rina juga
mengalami hal yang sama seperti halnya Bima yaitu tumbuhnya benih – benih cinta
di hatinya. Akan tetapi Rina tidak bisa mengungkapkan perasaannya itu karena Rina
sebelumnya sudah mempunyai seorang kekasih. Dan ada satu hal lagi penyebab Rina
tidak bisa mengungkapkan perasaanya itu, yaitu dia tidak bisa menghianati teman
baiknya yang merupakan mantan pacar dari Bima. Dia tidak bisa berhianat karena
kedatangan orang baru di dalam kehidupannya.“ Apa yang
harus aku perbuat? Apa aku harus menyatakan cintaku padanya? Terus bagaimana
dengan orang – orang di sekitarku yang tidak merestui hubunganku? Apakah aku
harus meninggalkan mereka karena keputusanku ini?” Rina
kebingungan harus berbuat apa, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengubur
perasaannya itu dalam – dalam.
Hingga pada suatu hari, Bima sudah tidak bisa lagi membendung
rasa cintanya itu dan dia pun menyatakan cintanya terlebih dahulu kepada Rina. Awalnya
Rina tidak percaya akan pernyataan dari Bima tersebut, karena sepengetahuan Rina,
Bima itu orangnya suka ngawur dengan pembicaraannya. Hal ini jelas membuat Rina
terkejut dan tidak mempercayai apa yang telah didengarnya. Tapi Rina tidak mau
salah tindakan. Setelah Rina mempertimbangkan terlebih dahulu apa konsekuensinya
jika dia menerima cintanya Bima, akhirnya Rina pun berkata “Maafin aku Bim aku
gak bisa ngebales cintamu, jujur aku juga cinta ama kamu tapi aku gak bisa ngehianatin
orang – orang yang ada di sekitarku. Aku sudah punya pacar dan temanku juga
adalah mantanmu. Aku gak bisa ngehianatin mereka. Aku minta maaf yang sebesar –
besarnya atas semua keputusanku ini. Maafin aku, aku gak bisa ngebales cintamu.
Mungkin kita memang belum jodoh di kehidupan sekarang ini dan lebih baik kita
menjadi teman seperti biasanya aja agar tidak terjadi sebuah pertentangan
bathin nantinya” itu jawaban yang dapat Rina berikan kepada Bima. Namun syukurlah
Bima bisa menerima jawaban tersebut dengan lapang dada. Bima menganggap semua hal
tersebut merupakan realita dari warna – warni hidup. “Hidup memang rumit jadi gak
perlu di rumit – rumitin lagi” pikir Bima kembali pada prinsip awalnya kalau di
dunia ini tidak ada hal yang bisa membuatnya bersedih. “Semuanya akan baik –
baik saja jika aku tidak terlalu mempermasalahkannya” itu isi prinsip Bima. Akan tetapi prinsipnya itu tidak berguna saat
pikirannya kacau. “Kenapa aku harus mencintai orang yang tidak seharusnya aku
cintai? Mungkinkah ini karma yang ku dapatkan karena aku pernah menyakiti hati
beberapa orang wanita karna cinta?” Bima mulai menyalahkan dirinya sendiri. Bima
terus mencari cara untuk melupakan Rina, namun semua itu sia – sia. Akhirnya
dengan pernyataan dari Rina yang membuat Rina sampai harus meneteskan air mata
untuk mengatakannya, Bima baru bisa sadar dan tenang. “Aku benar – benar sayang
ama kamu Bim, jangan kamu gituin dirimu hanya karena aku. Aku benar – benar
malu dengan diriku sendiri karena sudah berpaling” Rina berkata sambil
menangis. Dengan semua itu akhirnya Bima tahu diri dan memilih untuk mundur
demi kebahagiaan Rina dengan pacarnya”. Tetapi sebelumnya mereka membuat suatu
kesepakatan agar semua itu tidak diketahui oleh teman Rina sekaligus mantan
pacarnya Bima. “Biarkan cuma kita berdua yang tahu hal ini, jangan sampai orang
lain tahu supaya tidak terjadi sesuatu yang lebih besar lagi” itulah
kesepakatan mereka berdua. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menjalani
kehidupan mereka masing – masing seperti sebelumnya. Dengan menyatukan sebuah
janji yang akan selalu mereka ingat “Cintamu ada di dalam hatiku, kamu cinta padaku
dan akupun juga begitu, cinta kita ini kan abadi meski tidak bersama sebagai
kekasih di dunia ini.”
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar